STIKS TARAKANITA mendapatkan Penghargaan Competency Award dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sebagai pengakuan terhadap kualitas sumber daya manusia bagi keberhasilan bangsa dan negara.
LINK AND MATCH PENDIDIKAN SEKRETARIS DI STIKS TARAKANITA
Paradigma pendidikan harus berubah dari supply minded (orientasi jumlah) menjadi demand minded (kebutuhan) ke dunia kerja. Harus dikaji dan digali apa yang dibutuhkan pasar kerja.
Dunia Kerja Mencari
Dibutuhkan segera, seorang sekretaris lulusan Aksek/LPK Tarakanita, dengan kualifikasi 1) Wanita masih single, 2) Memiliki keterampilan Bahasa Inggris dengan baik, 3) Bisa mengoperasikan computer, 4) Memiliki kemampuan komunikasi dengan baik. (PT. Pupuk Sriwijaya, 3 Agustus, 2009). PT PLN (PERSERO) membutuhkan sekretaris dengan persyaratan 1) Berbahasa Inggris aktif dan pasif, 2) TOEFL minimum 500, diutamakan yang menguasai Bahasa Mandarin. 3) IPK minimum 3. (PT PLN, 10 Agustus 2009). “We are the Biggest manufacturing company in motorcycle industry seeking for candidates to fill secretary: Diploma degree on secretary, having good communication and interpersonal skill, having good knowledge on secretarial task and administration” (PT Astra Honda Motor, 11 Agustus 2009)
Demikianlah sekelumit contoh permintaan tenaga sekretaris dan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja dan dunia industri yang membidik kampus STIKS Tarakanita. STIKS Tarakanita merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita yang semula bernama Akademi Sekretari/LPK Tarakanita. STIKS Tarakanita merupakan salah satu pendidikan tinggi yang memiliki program studi S1 Komunikasi Bisnis dan D3 Sekretari. D3 Sekretari mempersiapkan para perempuan muda menjadi calon-calon sekretaris yang smart, terampil, berwawasan luas, dan berkarakter untuk dapat memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri.
Hubungan atau jaringan dan kesesuaian antara dunia kerja dengan dunia industri dalam memandang lulusan sebagai hasil dari pendidikan amatlah penting. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1993-1998, Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, mencanangkan Program Link and Match yang mengaitkan berbagai macam program dan kurikulum di sekolah dengan tuntutan yang dibutuhkan perusahaan. Mengingat pentingnya aspek kompetensi, prinsip linkage and matching (jaringan dan aplikasi) harus dikembangkan. Paradigma pendidikan harus mulai berubah dari supply minded (orientasi jumlah) menjadi demand minded (kebutuhan) ke dunia kerja. Harus digali apa saja yang dibutuhkan pasar kerja.
Menurut Doni Koesoma, link and match adalah keterpautan dan kesepadanan dalam lembaga pendidikan. Wardiman (2007) menegaskan, yang dimaksudkan dengan link and match adalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja ke depan. Pola link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja dapat dilakukan dengan berbagai bentuk.
STIKS Tarakanita, khususnya pada program pendidikan D3 Sekretari, mewujudkan link and match dengan berbagai upaya. Pertama, memiliki komitmen dalam penerapan pendidikan berbasis kompetensi. Kedua, menyusun kurikulum yang memiliki perbandingan antara teori dan praktek 40% : 60%. Ketiga, mendapatkan dukungan dari otoritas yang kompeten sesuai sektor. Keempat, meningkatkan sarana prasarana. Kelima, memiliki sumber daya yang mendukung pengembangan kompetensi. Keenam, Mengembangkan asesor kompetensi. Ketujuh, memiliki konsorsium. Dan Kedelapan, membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri sebagai pengguna jasa.
SDM sebagai Daya Saing
Penyiapan kualitas SDM adalah bagian kewajiban dunia pendidikan karena dalam proses pembangunan, peranan pendidikan amatlah penting dan strategis. John C. Bock, dalam Education and Development: A Conflict Meaning (1992), mengidentifikasikan peran pendidikan secara garis besar sebagai berikut. Pertama, merupakan fungsi politik pendidikan. Kedua, merupakan fungsi ekonomi. Peran tersebut diperinci lagi menjadi: 1)memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sociocultural bangsa, 2) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial, dan 3) untuk meratakan kesempatan dan pendapatan.
Peran yang pertama (daya saing ekonomi) akan terwujud jika didukung oleh sumber daya manusia yang handal. Untuk menciptakan SDM yang handal diperlukan pendidikan yang memadahi untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja. Oleh karena itu, jika kualitas sumber daya manusia rendah, yang patut dipersoalkan adalah: ada masalah apa dengan pendidikan? Bagaimana dengan pendidikan kita? Kegagalan penyiapan kualitas SDM dan menurunnya daya serap lulusan berarti kegagalan lembaga pendidikan melakukan tugas.
Salah satu upaya untuk mencapai konsepsi pendidikan link and macth adalah melalui pemberdayaan kurikulum sebagai mindset pendidikan formal. Kurikulum yang efektif adalah kurikulum yang mengelaborasi kemampuan proses belajar mengajar menjadi kemampuan praktis secara teoritik dan analitik yang mampu mengadaptasi dan menyelaraskan kompetensi dan skill sumber daya manusia pada ruang lingkup spesifik pendidikannya
Peran kurikulum dalam dunia pendidikan sangat penting karena dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran dan evaluasinya. Berdasarkan SK Mendiknas No. 045/U/2002 Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi pada prinsipnya harus memenuhi lima elemen kompetensi. Kelima elemen tersebut adalah 1) landasan kepribadian, 2) penguasaan ilmu dan keterampilan, 3) kemampuan berkarya, 4) sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai, dan 5) pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Suatu kurikulum yang dirancang tidak lagi berorientasi pada isi (content based) melainkan bergeser pada kompetensi (competence based).
Kerjasama STIKS dan DUDI
Kerjasama STIKS dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri(DUDI) merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas lulusan dan juga untuk melihat sejauh mana kesesuaian antara pendidikan yang diterima di STIKS dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Berbagai bentuk kerjasama dilakukan antara lain dalam bentuk magang (?), penyerapan lulusan, pembentukan pusat informasi lapangan kerja, penempatan mahasiswa untuk magang kerja di instansi pemerintah atau swasta. Kerja sama tersebut, untuk menjembatani kesenjangan antara program perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Dalam kenyataan di lapangan di Indonesia hubungan yang harmonis antara dunia kerja dan dunia pendidikan masih jauh dari kenyataan. Sebagai contoh, kebijakan pendidikan di Indonesia membuat perguruan tinggi mempertahankan jenjang pendidikan akademis seperti D3, S1, S2, dan S3 dan tidak ada kredit apapun yang dapat diperoleh tanpa melewati suatu ujian atau kuliah secara formal, termasuk juga pengalaman bertahun-tahun di dunia kerja. Hal ini dikarenakan sifat perguruan tinggi di Indonesia yang cenderung lecture center orientation dibandingkan dengan student center orientation. Perilaku ini menumbuhkan budaya apatis di kebanyakan kalangan mahasiswa untuk berkreasi dan menekuni bidang keterampilan lain manakala sedang di bangku kuliah.
Dunia usaha dan dunia industri juga sering beranggapan bahwa lulusan Sarjana masih belum langsung tune in ketika harus terjun ke lapangan kerja. Lulusan perguruan tinggi masih dianggap nol, belum mengerti, belum bisa apa-apa. Akibatnya sering ada berbagai bentuk pelatihan bagi para fresh graduate seperti program: graduate trainee dll, untuk memberikan kesiapan bagi lulusan baru yang bekerja di dunia usaha dan dunia industri.
Competency Award
STIKS Tarakanita, khususnya pada program D3 Sekretari, memiliki komitmen pada penerapan Pendidikan berbasis kompetensi, yang terbukti dengan kurikulum yang diajarkan. Perbandingan teori dengan praktik adalah 40%:60%. Pada saat lulus, mahasiswa STIKS Tarakanita langsung dapat bekerja tanpa harus mengikuti pelatihan. Pengembangan kompetensi mendapatkan dukungan dari berbagai aspek. Kompetensi sebagai sekretaris tampak unggul dalam kurikulum, laboratorium yang lengkap (Laborantorium bahasa, mengetik, teknologi Informasi, filling, office management, dan kesekretarisan). Disamping itu sebelum mahasiswa lulus mereka wajib menjalani Praktek Kerja Industri (Prakerin) di dunia usaha dan dunia industri selama 3 (tiga) bulan dan wajib membuat laporan tertulis.
STIKS Tarakanita dalam mengembangkan kompetensinya didukung oleh 400 perusahaan yang bergerak di bidang produk (barang) maupun jasa. Lulusan STIKS Tarakanita saat ini menduduki jabatan sekretaris di perusahaan baik sebagai sekretaris senior maupun medior. STIKS Tarakanita juga mengembangkan asesor kompetensi, termasuk dalam konsorsium kesekretarisan, dan bekerja sama dengan Kopertis Wilayah III menyusun dan mengembangkan kurikulum sekretaris berbasis kompetensi. STIKS Tarakanita juga memiliki ikatan alumni, yaitu Ikatan Alumni Sekretari Tarakanita (IAST). Pengurus Ikatan Alumni bergerak mengadakan jejaring (networking) dengan Asosiasi Profesi Sekretaris yang dikenal dengan nama Ikatan Sekretaris Indonesia (ISI)
Oleh karena itu, STIKS Tarakanita dipandang memiliki keunggulan pembangunan kompetensi dan mempunyai komitmen kuat dalam mengimplementasikan kompetensi di bidang sekretaris dengan berhasil, yang terbukti dengan mendapatkan BNSP Competency Award. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) merupakan otoritas kompetensi pembangunan kompetensi melalui program sertifikasi profesi untuk memelihara dan memastikan kompetensi. Maka STIKS Tarakanita terpilih dan ditetapkan untuk menerima BNSP Competency Award pada tahun 2009 untuk kategori Lembaga Pendidikan.
BNSP Competency Award merupakan bagian dari upaya stimulasi peningkatan penerapan jaminan kompetensi. Melalui BNSP Competency Award diharapkan produsen dan konsumen semakin menghargai aspek mutu dan memahami perlunya berpartisipasi aktif dalam pengembangan dan penggunaan system sertifikasi kompetensi yang kredibel. BNSP Competency Award menilai seluruh aspek yang dapat mendorong kemajuan organisasi dalam mewujudkan kinerja yang lebih baik, yaitu kualifikasi, kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap serta pendelegasian tugas kepada profesi.
Akhirnya, Vivat academia, Vivant professores, vivat membra quae libet, Semper sint in flore! (Hidup akademi, Hidup para pengajar, Hidup mahasiswi, Semoga selalu sejahtera) (Diambil dari Gaudeamus Igitur, versi C.W. Kindeleben 1781)
*Penulis, Anggota pengurus Komdik KWI, pengurus Asosiasi Badan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Swasta Seluruh Indonesia (ABPPTSI), pengurus Perhimpunan Akademi dan Politeknik Katolik Indonesia(PAPKI) , Ketua STIKS Tarakanita, sedang menyelesaikan studi S3 MP, UNJ.





